Jutaan orang yang menderita malaria kini memiliki harapan baru, setelah ilmuwan Inggris membuka peta genetik tanaman yang dapat mengobati penyakit ini. Para ilmuwan dari University of York telah menciptakan tanaman antimalaria yang akan tersedia di perkebunan luas, di negara-negara berkembang dalam waktu dua tahun.
Meskipun dapat dicegah dan diobati, malaria membunuh setidaknya satu juta orang setiap tahunnya. Obat yang paling efektif untuk mengobati penyakit adalah Artemisinin Terapi Kombinasi. Tapi saat ini kekurangan dari tanaman Artemisia annua, yang merupakan bahan baku utama obat-obatan malaria, menjadi kekhawatiran khusus. Penemuan peta genetik dari ramuan herbal Artemisia annua adalah sebagai terobosan signifikan yang dapat menyelamatkan banyak nyawa.
Dengan pemahaman baru dari Artemisia genetika, kita dapat menghasilkan sebuah perbaikan. Varietas non-GM dari Artemisia jauh lebih cepat tumbuh dari yang diduga. Para peneliti mengatakan, tanaman baru itu akan dikembangbiakkan oleh petani miskin, yang sekaligus dapat membantu membangun ekonomi yang rapuh.