Dunia.web.id
# duniawebid.com #
Cari

Member Contribution
  Artikel & Informasi terkini kiriman dari para penduduk
( Login | Register )
 
All Topics
Berita
Foto
Internasional
Just For Fun
Keluarga
Olahraga
Otomotif
Seni
      » Sastra & Puisi
      » Seni Lainnya
Teknologi
 
 Dunia.web.id - Member Contribution.

 

Sinterklas Janggut Merah


Oleh : kholix / 26-Dec-2009 07:20:22

Cerpen Sungging Raga

Sore hari di Middlesbrough. Sebuah taman dengan air mancur di tengahnya, cahaya matahari miring dari arah barat, menimpa daun-daun, dan bebatuan, suara gemericik air yang khas, beberapa ekor burung tak bosan-bosannya melintas.

Di sebuah sudut, beberapa anak kecil duduk setengah melingkar. Anak-anak itu tentu baru saja pulang dari sekolah, mereka masih membawa tas masing-masing, menghadap pada seseorang yang sedang berdiri. Orang itu mengenakan pakaian serba merah, bahkan kumis dan jenggotnya juga merah. Dengan dandanan tersebut, laki-laki itu tampak sudah sangat tua.

“Namaku Sinterklas Janggut Merah.” Begitu ia memperkenalkan diri kepada anak-anak.

“Seperti di komik Kindaichi, ya?” Tanya salah seorang dari mereka.

“Lho, kok tahu?”

Laki-laki itu memang berhasil menarik perhatian anak-anak kecil yang sedang bermain-main di taman. Awalnya hanya dua-tiga anak yang mendekatinya. Sampai akhirnya menjadi banyak dan membentuk setengah lingkaran. Ternyata, laki-laki itu sedang mendongeng, ia memakai sarung tangan berbentuk boneka. Anak-anak menyimak dengan baik setiap ucapannya

“Kemudian kancil berhasil mencuri sebuah timun dari ladang Pak Tani.”

“Terus?”

“Begitulah. Kancil itu lari sambil membawa timun curiannya, ia terus berlari dengan lincah, bersembunyi di balik daun-daun agar tidak diketahui petani yang sangat marah.” Laki-laki itu berucap sambil memeragakan adegan melalui sepasang boneka di tangannya, di tangan kiri ada boneka kancil, di tangan kanan ada boneka seorang petani. Semuanya terbuat dari kain. Lalu ia melanjutkan dongengannya, “Petani itu bersumpah, kalau kancil itu tertangkap, hewan putih yang lucu itu akan dibunuhnya.”

“Dibunuh?!” Beberapa anak bertanya serempak. Wajah mereka sebagian berkeringat, entah karena serius mendengarkan dongeng itu sejak tadi, atau karena matahari yang masih saja cukup panas meski telah jatuh miring di langit sana.

“Ya, dibunuh.” Sinterklas Janggut Merah menjawab

“Kejam sekali.”

“Memang.”

“Itu jahat!”

“Hohoho. Wajar kalau petani itu marah. Sebab, kancil itu telah mencuri timunnya, petani sudah susah-susah menanam.”

“Kancil mencuri untuk anak-anaknya!”

“Petani tidak tahu itu.”

“Aah. Tidak boleh, pokoknya tidak boleh dibunuh!” Beberapa anak terus saja protes. “Kasihan kancilnya.”

“Lho. Dengarkan dulu, itu kan ancaman si petani. Tetapi, belum tentu si kancil tertangkap, ya kan?”

“Oh ya. Benar juga, kancil kan cerdik! Buktinya dia pandai mencuri!” Salah seorang dari mereka berseru.

“Nah.”

“Terus bagaimana?” Anak-anak itu semakin tidak sabar.

Matahari senja tiba. Cahaya merah keemasan menyapu hamparan rumput dan pepohonan. Mobil-mobil berlalu-lalang semakin ramai, sebagian lampu kota telah menyala, Middlesbrough yang ramai. Laki-laki itu menatap ke arah senja.

“Lanjutannya besok saja, ya? Sudah sore. Kakek Sinterklas harus pulang.”

“Yaaah… Ayo dilanjutkan, kancil itu bagaimana?”

“Sabar dulu. Besok masih ada waktu. Kancilnya tidak kemana-mana. Ayo cepat, nanti kalau terlambat pulang bisa dimarahi Papa dan Mama.”

“Sekarang saja!”

“Besok ketemu di sini lagi, ya? Kakek Sinterklas akan lanjutkan ceritanya. Nah, sekarang ayo pulang, anak-anak.”

Anak-anak itu menurut, mereka bubar, berpencar, berlari-lari kecil, berbaris di tepi jalan untuk menyeberang. Rumah mereka tentu tak jauh dari kompleks ini, bahkan sebagian masih saling bersebelahan.

Laki-laki itu kemudian duduk di sebuah bangku, jenggot, dan kumis palsunya belum juga ia lepaskan ketika seorang wania muda menghampirinya.

“Kau ini buronan, mengapa begitu santai?” Tanya wanita itu.

“Aku kan di luar negeri.”

“Jadi, kau pikir sudah aman?”

“Ya.”

“Dan ternyata kau pergi ke luar negeri untuk menjadi pendongeng kancil bagi anak-anak. Haha, lucu sekali.”

“Aku suka dengan anak-anak, mereka begitu polos. Toh, mereka juga suka ceritaku. Sejak dua hari lalu, mereka rajin berkumpul. Daripada tidak melakukan apa-apa, lumayan untuk menghibur diri, meski aku tidak minta bayaran. Apa gunanya? Aku sudah banyak uang.”

“Setidaknya, kau harus tetap berhati-hati. Mereka sudah bekerjasama, mereka menyiarkan pencarian dirimu di koran. Menyediakan bayaran teramat mahal bagi yang bisa menangkapmu. Bisa saja kau diciduk di sini.”

“Tetapi aku tidak bersalah.”

“Masih saja kau bilang begitu? Hei hei, barang bukti sudah nyata. Mereka tinggal menunggu waktu untuk menyergapmu.”

“Aku hanya disuruh menyerahkan uang, lantas kuserahkan. Kewajibanku sudah selesai, lantas kenapa mereka sekarang mencariku?”

“Perkaranya tidak semudah yang kau pikirkan.” Wanita itu menyalakan sebatang rokok, asap tipis mengepul dari bibir merah yang menawan, beberapa merpati hinggap di hamparan taman.

“Sudahlah. Aku lelah. Sampai ketemu di apartemen.” Laki-laki itu beranjak.

“Ya. Nanti malam aku memang mau ke sana. Kebetulan, aku ada kejutan untukmu.”

“Kejutan apa?”

“Ya lihat saja.”

“Haha. Asal kau ingat, aku sudah punya istri.”

Wanita itu lebih dulu berlalu, berjalan menuju mobil yang diparkir di dekat pagar taman. Laki-laki itu beranjak ke arah yang berbeda, menyeberang jalan, menghilang di sela-sela pertokoan. Lampu-lampu taman siap menyambut malam.

***

Di sebuah kamar di Craven Cottage, laki-laki itu akhirnya melepas jenggot, dan kumis palsunya, ada suara musik klasik, jam dinding baru saja berdentang delapan kali. Ia sepertinya kelelahan, duduk bersandar di sofa sambil melihat beberapa pesan di layar handphone.

“Papa kapan pulang?” Begitu isi salah satu pesan dari anaknya. Kemudian ada juga dari anaknya yang lain.

“Papa ada di mana?” Kemudian dari anaknya yang lain lagi.

“Papa jangan lupa oleh-olehnya, ya?”

Ia lupa anaknya ada berapa, maka ia coba menelepon istrinya.

“Bagaimana kabarmu?” Laki-laki itu bertanya.

“Jangan tanya kabarku. Anak-anak merindukanmu.”

“Masih saja. Coba kau hibur mereka, bilang saja urusanku belum selesai.”

“Aku sudah kehabisan alasan. Mereka bertanya setiap saat, kapan Bapak pulang? Belum lagi namamu banyak disebut-sebut di televisi, aku takut anak-anak melihat.”

Laki-laki itu tertegun, “Baiklah, aku pulang malam ini juga. Katakan pada anak-anak, esok sore jemput aku di bandara. Katakan juga, aku merindukan mereka.”

“Baiklah, tetapi hati-hati, jangan sampai kau tertangkap. Kami tidak mau kehilangan kamu.”

Beberapa saat kemudian telepon ditutup. Udara dalam kamar hotel begitu dingin, namun dahinya berkeringat, seperti memikirkan sesuatu yang berat. Kemudian ia bergegas membereskan barang-barangnya, melipat pakaian, meletakkan semuanya dalam sebuah kopor besar. Ia sudah bertekat untuk kembali, ia sudah membereskan semuanya ketika ia mendengar beberapa langkah kaki dan diakhiri dengan bel yang berbunyi.

“Kau kah itu Nalea?” Tanya laki- laki itu sambil menuju pintu membawa kopornya.

“Ya, seperti janjiku. Aku membawa kejutan untukmu.”

“Kejutan apa?”

“Bukalah pintunya. Aku datang bersama teman-teman.”

***

Sore hari di Middlesbrough. Sebuah taman yang sama, dengan air mancur di tengahnya, cahaya matahari kembali miring dari arah barat, menimpa daun-daun dan bebatuan, suara gemericik air senantiasa terdengar jelas, beberapa ekor burung masih tak bosan-bosannya melintas.

Seorang wanita berpakaian serba merah sedang duduk di sebuah bangku, tak lama kemudian anak-anak kecil segera berkerumun tak jauh darinya, wanita itu segera menghampiri mereka.

“Ayo anak-anak, dongengnya kita mulai, ya.” Wanita berbaju merah tersebut berdiri di depan anak-anak itu.

“Tunggu!” Seorang anak segera berseru, semuanya menoleh. “Tante siapa?”

“Tante ini pendongeng.”

“Kakek Sinterklas yang kemarin?”

“Ooo… Dia sakit, jadi Tante yang menggantikan sementara. Mungkin untuk beberapa hari, tidak apa-apa kan? Nah, baiklah, hari ini tante akan menceritakan dongeng cicak dan buaya.”

“Tunggu!” Anak yang tadi kembali menyela.

“Ya? Ada apa lagi anak manis?”

“Cerita kancilnya bagaimana?”

“Oh, kancil, ya?”

“Ya. Kemarin kakek Sinterklas Janggut Merah mendongeng kancil.”

Wanita itu terdiam.

“Kami ke sini mau mendengarkan kelanjutan cerita kancil!” Anak-anak lain mulai ikut bicara. “Ayo cerita. Kami datang cuma mau dengar cerita kancil sampai habis.”

“Memangnya dongeng kakek itu kemarin belum habis, ya?”

“Beluuum.” Anak-anak menjawab serempak. Wanita itu diam untuk berpikir, anak-anak menunggu. “Mmm… Bagaimana kalau cerita kancilnya menunggu kakek Sinterklas kembali. Tante punya dongeng yang lebih seru, cicak melawan buaya, kalian tahu cicak? Hewan kecil yang sering muncul di dinding, sedangkan buaya itu hewan buas yang hidup di sungai, hayoo, menurut kalian, seandainya cicak bertarung melawan buaya, siapa yang menang?”

Tak ada yang menjawab.

“Kenapa diam, anak-anak?”

Tetap tak ada jawaban, semuanya membisu sambil menatap tajam pada wanita itu.

Beberapa menit berlalu menggapai sepi. Wanita berbaju merah itu kini sendirian, ia hanya duduk di taman, menyalakan sebatang rokok, meniupkan asap ke udara. Anak-anak kecil itu telah meninggalkannya, mereka bubar dengan perasaan sangat kecewa, ketika berjalan pulang, beberapa dari mereka saling berbisik, “Pasti kancil itu dibunuh petani yang jahat.” ***

(Jogja, 2009)

* Sinterklas Janggut Merah: tokoh antagonis dalam komik Kindaichi episode Pembunuhan di Hotel Eropa.

 
 
 Reply Comment
 
 
 Comment pages [ 1 ]
 
Your name
Website http://
Comment
   
Image verification code
Retype image code here
   
 
 


 
© 2000-2010 Dunia.web.id - Dunia Web Indonesia | dunia.web.id | duniawebid.com | faq