Dunia.web.id
# duniawebid.com #
Cari

Member Contribution
  Artikel & Informasi terkini kiriman dari para penduduk
( Login | Register )
 
All Topics
Berita
Foto
Internasional
Just For Fun
Keluarga
Olahraga
Otomotif
Seni
      » Sastra & Puisi
      » Seni Lainnya
Teknologi
 
 Dunia.web.id - Member Contribution.

 

Mulut Besar


Oleh : kholix / 07-Jan-2010 08:30:23

Cerpen Rifan Nazip

Aku tinggal di lorong damai nomor 5. Seperti namanya, lorong ini selalu damai, meski menjadi tempat perlintasan orang dari jalan protokol di sebelah utara ke jalan kampung di sebelah selatan. Panjang lorong kurang lebih limaratusan meter. Cukuplah untuk tempat orang mengebut tak karuan. Karena selain lorong ini lurus, tak ada polisi tidur yang menggalang jalan. Penghuni lorong tak mau mengganggu kenyamanan orang berlalu-lalang, seperti itu pula tak ingin kenyamanannya diganggu.

Mungkin orang-orang berpikir, kedamaian tercipta, adalah tersebab penghuni lorong damai didominasi para terpelajar, atau orang yang taat beragama. Anggapan itu salah. Contohnya, aku hanyalah seorang wartawan karbitan yang bekerja di koran tertup; kadang-kadang terbit, kadang-kadang tutup. Tetangga-tetanggaku memiliki beragam profesi. Tukang becak, mamang bakso, janda merangkap perek, pemijat, tukang salon esek-esek, guru, ustadz, pendeta, biksu. Pokoknya beragam. Tapi semua akur. Semua saling membantu. Maka itu, orang-orang yang sengaja melintas di lorong kami selalu sopan. Tak ada sepeda motor yang mengebut.

Tapi pagi ini aku seperti melihat pesta suara cucakrawa. Aku yang biasanya bangun pukul sepuluh setelah begadang menulis berita atau cerpen malam harinya, terpaksa menghentikan kenyamanan memeluk bantal penuh liur dan bercak sperma. Segera kubuka daun jendela lebar-lebar sambil memicingkan mata. Cahaya matahari tepat menerpa dinding kamarku.

Di rumah sebelah kulihat Mak Yus dan Tante Im sedang ribut. Mak Yus memegang gagang sapu yang ijuknya sudah ompong. Tante Im mengacung-acungkan centong. Mak Yus bekerja sebagai pembantu, jadi wajar pegangannya sapu. Sementara Tante Im membuka warung makan di dekat kantor pemda kota. Sesiang ini dia belum pergi berjualan. Pasti karena dia pulang larut malam bersama preman pasar tadi malam. Aku memergokinya ketika pulang larut setelah mengencani pacarku. Dia tersenyum malu. Saat si preman pulang, dia mengetok jendela kamarku.

Katanya, “Jangan bilang siapa-siapa, yah! Aku malu kalau ketahuan pacaran sama preman pasar. Tapi tak apalah, yang penting banyak duitnya. Aku juga aman tak dipalak-palak preman lain.” Kututup jendela setelah dia menyelipkan sebungkus rokok kretek di sakuku. Aku menyeringai sendirian. Rejeki nih, perangsang otak demi menulis cerpen minggu.

Hehehe, ada malu juga Tante Im. Dia pasti tak enak hati, karena Rojoki, tukang bakso di ujung lorong, sudah pernah mau melamarnya. Tapi perempuan ini menolak mentah-mentah. Ck, ck, ck!

“Setan kau!” teriakan itu menyadarkanku. Film pertarungan antara Mak Yus dan Tante Im masih berlanjut. Mungkin memasuki ronde kedua, setelah mereka terdiam sebentar karena melihatku menongolkan kepala di jendela.

“Setan apa?” balas Mak Yus. Anak majikannya merengek meminta dibuatkan susu. Namun emosi si Mak masih lebih besar daripada mengurusi anak majikan.

“Kalau menyapu jangan seenak perut begitu, dong! Aku kan lagi memasak. Nanti debu-debunya masuk ke mari.” Hampir keluar bola mata Tante Im.

“Salah sendiri! Kenapa harus membuka pintu lebar-lebar!”

“Kan banyak asap, kampret! Pengap!”

“Makanya kalau memasak makanan itu bagi-bagi ke tetangga. Ini bau pedasnya saja yang dikirim sampai bengek majikanku kambuh.”

Tiba-tiba tercium sesuatu yang gosong. Tante Im sadar itu masakannya. Dia menjerit, dan berjanji melanjutkan pertengkaran dengan Mak Yus setelah dia pulang berjualan. Mak Yus setuju. Perempuan tua ini berlari mendapati majikannya. Anak yang meminta susu itu ternyata mengadu kepada ibunya.

Selesai sudah film pagi hari. Aku kembali menutup jendela sambil berniat melanjutkan mimpi indah. Tapi sepertinya sudah tanggung. Kuseduh saja kopi sambil mengetuk-ngetuk kening. Kiranya masih berdetuk, berarti aku tak sedang bermimpi. Pertengkaran dua perempuan tadi benar-benar nyata. Padahal sejak aku indekos di lorong damai, tak pernah sekalipun aku mendengar keributan demikian.

Kucuci wajah dilanjutkan mencukur jambang. Tapi mendadak aku menjerit. Bukan tersebab pisau cukur melukai pipiku, melainkan ada yang aneh di cermin. Aku melihat ukuran mulutku lebih besar dari biasanya. Kenapa ini? Tapi kutenang-tenangkan saja hati. Mungkin hanya perasaanku saja.

Teriakan kembali menggema. Kali ini bukan dari dekat jendela kamarku. Namun dari arah depan rumah indekos. Buru-buru aku menendang pintu, lalu melihat film yang lebih seru. Pak Zanah sedang memegang pentungan sebesar lenganku. Sedangkan di hadapannya, Robi’i mengacungkan belati. Pertengkaran mereka hanya karena ayam Robi’i yang hendak disembelih, berlari mengacak-acak warung Pak Zanah. Otomatis lelaki yang baru bergelar haji itu, marah bukan kepalang. Dia memukul ayam Robi’i dengan pentungan itu. Ngek, mati!

Tentu saja Robi’i yang bekerja sebagai penjual ayam potong, tak terima. Meski kelak ayam itu tetap dimatikan, tapi harus disembelih dulu dengan membaca basmallah. Dia tak ingin pembelinya kuwalat tersebab memakan ayam yang dipotong tak sesuai syariat. Bisa-bisa mereka memakan ayam haram. Yang menerima dosanya adalah si penjual. Dialah yang tahu halal-haramnya barang jualan itu.

Aku sangat heran. Padahal dulu, ketika ayam-ayam Robi’i lepas dari kandang dan mengacak-acak rumah Pak Zanah dengan cakar-cakar dan tahi, sama sekali tak berujung keributan. Pak Zanah hanya menangkap ayam-ayam itu, lalu menyerahkannya ke Robi’i. Tak ada perkara. Yang ada hanyalah si penjual ayam potong ini kemudian mengantarkan rantang berisi gulai ayam. Mengapa sekarang persoalan menjadi sedemikian pelik?

Dalam kebingungan, barulah kusadari mulut Pak Zanah dan Robi’i berukuran lebih besar dari sebelum-sebelumnya. Aku pun melihat mulutku di jendela kaca, tetap besar seperti tadi. Mak Yus dan Tante Im yang turut menonton dengan hanya mengenakan handuk, pun bermulut besar.

Teriakku, “Woi, kenapa mulut kita menjadi besar-besar semua?”

“Iyakah?” Mak Yus meraba mulutnya, lalu menjerit. Tante Im ikutan meraba, menjerit pula. Pak Zanah dan Robi’i berhenti berengkar. Mereka tunggang-langgang masuk ke rumah ingin mencermini mulut masing-masing.
* * *
Kekacauan menimpa lorong damai. Seluruh mulut warga, mulai dari bayi, anak-anak, remaja, dewasa, sampai yang tua bangkotan, besar semua. Gerangan apa ini? Yang lebih aneh lagi, mulut-mulut besar itu senang mengoceh. Ramai seperti cucakrawa. Kalau tak mengoceh cerita, paling-paling beradu mulut. Untung saja tak sampai beradu otot. Bisa berdarah-darah lorong. Bisa banyak yang berurusan di kantor polisi dan dipenjara. Sementara karena kehebohan ini, warga luar lorong dan orang-orang yang melintas di jalan protokol dan kampung, menjadikan ini sebagai tontonan. Untunglah pak rw berinisitafi menutup setiap ujung lorong dengan seng. Dipasang plang kayu, lalu lembaran seng didirikan dan dipaku bersusun sirih.

Pertikaian sejenak berhenti. Orang-orang menahan mulutnya dengan bebatan kain. Kami semua berkumpul di lapangan bulu tangkis demi membicarakan wabah aneh ini. Bagaimana mana mungkin seluruh mulut warga bisa berubah besar?

“Kalau berubah menjadi besar begini sih, tak masalah bagi saya, Pak RW. Tapi keinginan mengoceh tak karuan dan ingin berdebat terus, membuat saya tak nyaman. Bapak tahu kan saya seorang guru mengaji. Nanti tak enak sama anak-anak. Bisa dijadikan contoh,” kata Laila, memulai omongan.

“Ya, saya juga! Berbeda dengan Bu Laila, saya senang bisa mengoceh begini. Memudahkan saya berjualan keliling kota. Namun saya takut, orang-orang menjadi jijik membelis bakso saya. Memiliki mulut besar, otomatis memiliki juga semburan ludah yang besar.” Tukang bakso menimpali. Selama ini dia memang sangat pendiam. Berjualan keliling kota, hanya geleser roda gerobaknya saja terdengar halus melindas jalan. Pantas saja jualannya dari berangkat pagi-pagi, sampai pulang di sore hari, tetap sama penuhnya. Ujung-ujungnya warga loronglah yang menghabiskan meskipun tanpa diskon. Hehehe, manalah pula orang tahu ada penjaja lewat kalau tak berteriak!

Berganti-ganti orang berkeluh-kesah. Saat berbicara masing-masing membuka kain yang membebat bulu. Selesai berbicara diikat lagi, tersebab keinginan mengoceh dan bertengkar langsung muncul serupa gatal-gatal yang ingin lekas digaruk.

Akhirnya setelah dimusyawarahkan, pak rw memutuskan memanggil orang pintar saja. Dokter tak mungkin bisa memecahkan masalah mulut besar kami. Ini bukan perkara medis, melainkan berbau klenik.

Warga setuju. Semua pulang ke rumah masing-masing dengan pikiran berbatu-batu. Kami resah. Kami ingin perasaan ini tetap damai, sehingga nama lorong tak perlu diganti. Tentu lucu pabila nama lorongnya damai, tapi warganya selalu mengoceh dan bertengkar. Pastilah namanya lebih cocok diubah menjadi lorong ribut, atau lorong mulut besar, Moga-moga saja orang yang akan dipanggil pak rw sebenar-benar orang pintar. Jangan nanti hanya bisa memintari warga. Uang kami sudah keluar, tapi penyakit tak reda.
* * *
Akhirnya orang pintar panggilan itu datang. Kami berkumpul lagi di lapangan bulu tangkis. Semua libur bertugas. Semua takut menjadi pangkal permasalahan di lokasi kerja atau sekolah masing-masing.

“Ini hanya cobaan kepada warga di lorong damai. Tapi tak usah takut. Saya telah mendapat wangsit dalam mimpi, bahwa penyakit kalian ada obatnya,” ucap si orang pintar yang tak mau menyebutkan namanya. “Hanya saja, obat ini sedikit porno. Tapi demi kebaikan bersama, saya harap seluruh warga di sini tak menyimpan pikiran jorok dalam otak masing-masing,” lanjutnya.

“Apaan itu, Pak?” Beberapa pemuda angkat bicara. Mendengar yang porno-porno, otak mereka langsung ngeres.

“Jangan bepikiran jorok kalau mau sembuh!” Orang pintar berjenis kelamin laki-laki ini membentak. Semua diam. Semua tertunduk takut.

Dia mendehem sebentar, lalu melanjutkan ucapannya, “Obatnya ialah kalian harus berciuman dengan warga di luar sana yang belum terkena penyakit aneh ini.”

“Wah, saya boleh mencari yang cantik, Pak?” Aku menyela. Dia mendelik. Mak Yus menyikut rusukku. Meski sudah emak-emak, dari dulu dia tetap memendan rasa suka kepadaku. Ihhh!

“Tidak! Laki-laki hanya boleh berciuman dengan laki-laki. Perempuan dengan perempuan,” serunya.

“Bagaimana dengan banci seperti saya, Mbok!” Parni yang kalau siang dipanggil Parno, menyela dengan gaya genitnya.

“Banci terpaksa mencium ember!” Pak rw membalas. Tapi akhirnya membisu dengan wajah seperti kepiting rebus ketika dipelototi orang pintar itu.

Aku mengira tak akan ada warga di luar lorong yang mau dijadikan kelinci percobaan untuk pengobatan penyakit mulut besar kami. Ternyata aku salah besar. Mereka banyak yang berhasrat. Dari politisi, mc sampai pengacara berebut. Bahkan ada yang menyumbangkan uang segala.

Sekejap saja lorong damai menjadi pasar kagetan. Belasan wartawan dari media massa cetak, online, sampai radio dan pertelevisian, hampir setiap hari datang berkunjung. Ada-ada saja berita yang bisa mereka angkat, sekaligus mendongkrak oplah, atau rating perusahaan masing-masing. Warga yang jeli, menjadikan ini kesempatan berjualan. Lorong yang semula damai---kemudian berubah riuh setelah kasus mulut besar itu---bertambah riuh saja setelah ada praktek mentransfer mulut besar. Kata seorang politikus, transfer mulut besar lebih murah daripada biaya sekolah pidato atau mc.

Seminggu berlalu, stock mulut besar kami habis. Lorong damai menjadi tenang kembali. Sementara seluruh warga tak tahu bahwa wabah mulut besar itu telah dibisniskan dengan harga mahal di luar sana. Mungkin karena sedang ramai-ramainya persiapan kampanye pemilukada. Dan kami terhenyak ketika malam harinya membuka siaran di televisi, rata-rata orang di situ memiliki mulut-mulut yang sangat besar. Bahkan lebih besar lagi dari otak mereka yang tak tahu malu. ***

Palembang, 8 Desember 2009

 
 
 Reply Comment
 
 
 Comment pages [ 1 ]
 
Your name
Website http://
Comment
   
Image verification code
Retype image code here
   
 
 
dunia.web.id mempersembahkan layanan baru
---------------------------------------------------
website plus subdomain gratis di
www.kabarku.com | Produk indo
Ayo... buruan daftar & mari berbagi info..
---------------------------------------------------
situs jejaring sosial pertemanan di
www.duniamu.com | Baru
Ayo gabung dan segera cari teman / jodoh..


 
© 2000-2010 Dunia.web.id - Dunia Web Indonesia | dunia.web.id | duniawebid.com | faq