Jenazah Dulmatin tiba di kampung halamannya, Desa Kebo Ijo Kecamatan Petarukan, Pemalang, sekitar pukul 03.25, diantar oleh mobil ambulans milik RS Polri dengan pengawalan polisi. Jenazah dibawa dalam peti kayu, dengan tempelan kertas bertuliskan Joko Pitono als Amar Usman als Dulmatin.
Suasana haru serta tangis histeris keluarga sempat menyeruak saat jenazah Dulmatin dikeluarkan dari ambulans dan langsung dimasukkan ke dalam rumah. Sejumlah anggota Fron Pembela Islam (FPI) ikut menjaga ketat prosesi persemayaman Dulmatin. Warga setempat pun tak ketinggalan berbondong-bondong mendatangi rumah Jazuli untuk melayat sekaligus ikut menyolatkan jenazah.
Menurut kerabat Dulmatin, keluarga mengganti kain kafan yang membungkus jenazah Dulmatin. Namun, keluarga tidak memandikannya lagi. Sebelum dimakamkan rencananya jenazah akan disholatkan di masjid setempat. Sholat jenazah tidak dilakukan di rumah, karena tempatnya kurang memadai.
Jenazah Dulmatin rencananya akan dimakamkan sekitar pukul 08.00 pagi ini, Jumat (12/3/2010), di tanah keluarga di Desa Loning, Kecamatan Petarukan, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Lokasinya bersebelahan dengan Tempat Pemakamam Umum Dowo, Desa Loning, Kecamatan Petarukan. Di atas makam Dulmatin tersebut, menurut warga setempat nantinya juga akan didirikan sebuah musala. Bahkan, pondasi keliling musala juga sudah dibangun.
Ketua RT 07 Dukuh Loning, Desa Kebo Ijo, Trubus mengatakan, warga tidak keberatan jika Dulmatin harus dimakamkan di TPU Loning. Hal tersebut berbeda dengan perlakuan masyarakat terhadap sejumlah tersangka teroris lain, warga dan para tetangga Dulmatin sama sekali tak mempermasalahkan pemulangan dan pemakaman jenazahnya di kampung halaman. Sebab saat anak-anak hingga remaja, Dulmatin dikenal baik hati dan ramah.
Keluarga almarhum Dulmatin yang tinggal di kompleks Pasar Petarukan, Pemalang, Jawa Tengah, mengaku pasrah dan merelakan kematian tersangka teroris tersebut. Orangtua Dulmatin, Haji Jazuli, mengatakan, Rabu (10/3), seluruh keluarga dan kerabat ikhlas dengan kejadian yang menimpa anaknya. Mereka meminta maaf terhadap masyarakat, terutama umat Islam atas kesalahan yang dilakukan oleh almarhum.
Keluarga Dulmatin sempat shock ketika pertama kali mengetahui Dulmatin adalah salah seorang buronan yang paling dicari polisi. Dulmatin alias Joko Pitono alias Amar Usman hilang dari Pemalang sejak tragedi bom Bali pertama pada 2002. Istrinya, Istiada, sebulan lalu pindah ke Sukoharjo untuk menyekolahkan anaknya di pesantren.